Antisipasi Wabah PMK, Pemkab Sinjai Segera Bentuk Satgas

0
29

SINJAI, – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) saat ini tengah menyusun pembentukan satuan tugas (Satgas) tingkat Kabupaten terkait pencegahan Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak.

Hal itu dilakukan menurut Kepala DPKH Sinjai, H Burhanuddin, setelah ditemukannya suspek 9 ekor sapi yang diduga mengidap PMK di wilayah kecamatan Bulupoddo. Tujuannya, untuk mencegah atau mengantisipasi penularan PMK lebih luas.

Adapun pembentukan satgas akan mengacu pada petunjuk Satgas PMK Pusat, dimana Sekretaris Daerah (Sekda) sebagai ketua, Kapolres dan Dandim sebagai Wakil ketua dan sisanya adalah stakeholder terkait seperti DPKH, Dinas Kesehatan, Satpol PP hingga dinas Perhubungan.

“Meski sebelumnya kita sudah ada satgas internal melakukan pengawasan, kita akan laporkan ke Pak Bupati dan segera membentuk satgas Kabupaten yang keanggotaannya terdiri dari Forkopimda dan stakeholder terkait,” ucapnya saat menghadiri rapat dengan pendapat (RDP) komisi II, Senin (25/7).

Selain pembentukan satgas, pihaknya kini lebih aktif melakukan pengawasan dengan melibatkan petugas maupun peternak sapi di wilayah kecamatan. Termasuk memantau dan memperketat pengawasan lalu lintas ternak dengan ikut melibatkan petugas gabungan.

“Ini sementara kita lakukan di lapangan dengan memanfaatkan petugas dengan menggandeng peternak, jangan sampai virus ini menyebar,” sambungnya.

Menurut Burhanuddin, jika dinilai sangat urgen, tidak menutup kemungkinan juga akan diterapkan penutup wilayah sama seperti Daerah lain di Sulsel yang lebih dulu terdapat suspek PMK.

“Pengendalian lalu lintas ternak sementara kita lakukan, satgas juga mulai kita susun. Kalau memang sangat berbahaya kita mencoba mengajukan ke Pak Bupati untuk melakukan penutupan wilayah nanti,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Burhanuddin turut menjelaskan awal mula masuknya virus PMK di Sinjai. Dimana pedagang sapi Sinjai membawa sapi tersebut ke Makassar untuk dijual (idul kurban), akan tetapi sapi tersebut tidak laku dan di bawa kembali ke Sinjai namun tidak melaporkan ke petugas peternakan setempat.

Parahnya lagi, pedagang langsung menyerahkan ke peternak sapi untuk dikembalikan sebab adanya kesepakatan jika tidak laku, sapi tersebut dikembalikan ke peternak.

“Meski hasil laboratorium dari sampel yang kita ambil kemarin belum keluar tapi secara klinis dan pengamatan di lapangan 90 persen mengarah ke gejala PMK,” tambahnya.

Sedangkan langkah yang dilakukan dengan suspek sapi tersebut kini telah ditindaklanjuti. 9 sapi sedang dalam pengawasan dengan dilakukan isolasi terpadu. Termasuk membangun komunikasi dengan peternak untuk dilakukan pemotongan bersyarat.

“Kami sudah bicara dengan peternak agar sapi ini disembelih dengan syarat tertentu karena sesuai dengan standar prosedur penanganan PMK itu bisa dikonsumsi dengan syarat tulang, jeroan semuanya dibuang atau dikubur. Yang bisa dikonsumsi hanya daging murni,” kuncinya. (Tim Website)

Previous articleSatpol PP Tertibkan Sapi Berkeliaran dan Beri Teguran Kepada Pemiliknya
Next articleWujudkan Ekonomi Kreatif Yang Mandiri, Mahasiswa KKN Tematik Unhas Gelar Sosialisasi Pengembangan UMKM