Pemkab Sinjai Berupaya Tekan Angka Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

0
148

SINJAI – Pemerintah Kabupaten Sinjai terus berupaya untuk menekan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Berbagai langkah mereka lakukan untuk mengurangi kasus tersebut.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sinjai mencatat, jumlah korban kekerasan perempuan dan anak sebanyak 61 orang.

“Jumlah itu terdiri dari 42 kasus kekerasan terhadap anak dan 19 kasus kekerasan terhadap perempuan, beber Kepala DP3AP2KB Sinjai Dra. Hj. Mas Ati, saat ditemui di Ruang Kerjanya, Jumat (5/6/20).

Adapun kasus kekerasan terhadap anak didominasi oleh kasus kekerasan fisik yang terdiri dari 18 kasus, disusul persetubuhan di bawah umur 8 kasus, pencabulan anak 6 kasus, penganiayaan 3 kasus, anak dengan bantuan hukum 3 kasus, membawa lari anak 2 kasus dan pengeroyokan serta penelantaran anak masing-masing 1 kasus.

Sedangkan kasus kekerasan terhadap perempuan didominasi oleh kasus kekerasan dalam rumah tangga dan penganiayaan.

Sementara untuk periode spertama atau bulan Januari hingga Juni 2020 ini pihaknya belum mengetahui secara pasti sebab saat ini pihaknya masih melakukan koordinasi data dengan lintas sektor baik itu dari Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan Negeri.

“Untuk semester pertama ini belum bisa kami informasikan data kongkritnya karena kami masih menunggu data dari lintas sektor, ” katanya.

Untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak yang tertuang dalam salah satu program Pemerintah Kabupaten Sinjai, DP3AP2KB Sinjai telah melakukan berbagai upaya diantaranya melakukan edukasi kepada masyarakat termasuk optimalisasi keberadaan 13 Kampung KB.

Selain itu melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak seperti komunitas perempuan dan majelis taklim serta memaksimalkan peran Pemerintah Desa dalam mengatasi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Sejak adanya edukasi yang kami laksanakan selama ini, masyarakat kita semakin cerdas karena kasus kekerasan yang mereka alami sudah berani dilaporkan ke kami melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, tidak lagi seperti dahulu yang takut melaporkan jika mengalami tindakan kekerasan,” ungkapnya. (AaN/Aswad/Lela Kominfo Sinjai)