Pemkab Sinjai Bangun Pariwisata Sebagai Lokomotif Penggerak Ekonomi

0
105

SINJAI – Destinasi wisata Kabupaten Sinjai tidak lepas dari berbagai sektor pendukung demi kelancaran pengembangan pariwisata. Dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten Sinjai berkomitmen menjadikan pariwisata dan budaya sebagai salah satu sektor strategis unggulan daerah, karena selaras dengan Program Nasional.

Pariwisata dan budaya sebagai leading pembangunan dapat menggerakan perekonomian rakyat. Maka dalam pengembangannya, serta bagian dari implementasi pembangunan pariwisata, seluruh sektor turut menopang pengembangan destinasi wisata, sehingga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan asli daerah dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Menurut Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sinjai A. Mandasini Saleh, saat ini Bupati Sinjai tengah menekankan wilayah pembangunan destinasi wisata, baik sarana maupun prasarana. Seperti memperbaiki tempat-tempat wisata andalan khususnya Hutan Mangrove Tongke-Tongke dan Taman Hutan Raya (Tahura) di Sinjai Borong.

Di tahun 2019 berbagai program telah dilaksanakan dalam meningkatkan wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Sinjai.

Andi Mandasini menjelaskan di tahun 2019 lalu, Pemerintah Kabupaten Sinjai telah mendapatkan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementerian Pariwisata yang terdiri dari dana DAK Fisik sebesar Rp. 2.92 milliar dan dana DAK non fisik sebesar Rp. 500 juta.

Untuk dana DAK fisik ini Pemerintah Kabupaten Sinjai fokus dalam pengembangan destinasi obyek wisata Hutan Mangrove Tongke-tongke, yang berada di Kecamatan Sinjai Timur.

Dalam realisasinya pengembangan infrastruktur fisik di obyek wisata tersebut, seperti menambah tracking pengunjung, membangun pusat jajanan atau kuliner, pembangunan gazebo pengunjung dan pembangunan menara pandang.

Selain itu, melalui bantuan dari Bank Indonesia melalui bantuan sosial ekonomi berupa sepeda air bebek-bebek, pembangunan spot foto yang ada di pintu gerbang masuk, pewarnaan tracking untuk menambah ketertarikan pengunjung di destinasi tersebut serta prmbangunan anjungan yang berbentuk hati.

Bukan hanya itu, Pemerintah Provinsi Sulsel juga memberikan bantuan dana sebesar Rp 1 milliar dalam pembuatan spot foto dan tracking untuk pengunjung di hutan Mangrove Tongke-tongke yang tentunya semakin menambah fasiltas-fasilitas yang ada di obyek wisata tersebut.

Selain fokus dalan pengembangan obyek wisata Hutan Mangrove Tongke-tongke, Disparbud Sinjai tetap melakukan pengembangan obyek wisata lain yang dikelola oleh desa dan masyarakat melalui monitoring dan melakukan pemantauan secara rutin.

Di tahun 2019, kata Mandasini, beberapa obyek wisata yang cukup populer adalah pantai Bulokkong yang berada di desa Bua Kecamatan Tellulimpoe. Obyek wisata dini dikelola oleh Pemerintah Desa setempat dan berhasil menyedot para wisatawan baik lokal maupun dari luar daerah.

Melalui komitmen dari Kepala Desa Bua, Andi Azis Soi, wisata pantai yang telah dirintis sejak tahun 2017 ini, kini menjadi obyek wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan. Wisata ini memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai mulai dari gazebo, anjungan, penerangan lampu jalan, toilet hingga akses jalan yang baik menjadi salah satu faktor pendukung obyek wisata ini cukup ramai dikunjungi.

Untuk dana DAK non fisik, Disparbud Sinjai juga telah melaksanakan berbagai pelatihan dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia bagi pelaku wisata di kabupaten Sinjai diantaranya pelatihan pemandu wisata pedesaan dan perkotaan, pelatihan tata kelola destinasi wisata, pelatihan pemandu wisata selam dan pelatihan manajemen homestay.

“Pelatihan ini kita lakukan tidak lain adalah untuk meningkatkan pengetahuan, pemahamaan serta manajemen bagi pelaku wisata yang ada di Sinjai, sehingga mereka mampu melayani setiap wisatawan yang berkunjung,” ungkapnya.

Berdasarkan retribusi di lima obyek wisata Sinjai masing-masing Taman Purbakala Batu Pake Gojeng, Air Terjun Batu Barae Sinjai Borong, Air Terjun Lembang Saukang, Tahura dan Hutan Mangrove Tongke-tongke Dari tahun ke tahun jumlah wisatawan di Sinjai terus mengalami peningkatan.

Selama tiga tahun terakhir dari tahun 2017 jumlah pengunjung di lima obyek wisata tersebut, 39.324 orang, tahun 2018, 84.606 orang dan di tahun 2019 meningkat menjadi 87.200 orang. Sedangkan jumlah PAD yang diraup dari obyek wisata tersebut tiap tahun juga mengalami peningkatan, dimana tahun 2017 diperoleh PAD sebesar Rp.73.425.000, tahun 2018 meningkat drastis menajdi Rp. 402.064.000 dan di tahun 2019 juga meningkat menjadi Rp. 408.000.000.

Sementara itu di bidang kebudayaan, berbagai event menjadi kalender tahunan seperti Marimpa Salo di Kecamatan Sinjai Timur dan Tellulimpoe, Mappogau Sihanua di Kecamatan Bulupoddo dan pesta adat Mappogau Hanua di Kecamatan Sinjai Tengah.

Sehubungan pencapaian visi dan misi Pemkab Sinjai yang menjadikan event budaya sebagai event internasional, pesta adat Mappogau Sihanua dan rumah adat Karampuang kini sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kegiatan pendukung penunjang wisatawan yakni adanya kegiatan sebagai kalender rutin Provinsi Sulsel yaitu Sinjai Culture Carnival yang dilaksanakan setiap Hari Jadi Sinjai. Dalam pelaksanannya tiap tahun respon masyarakat sangat besar hal ini dapat terlihat dengan meningkatnya pergerakan ekonomi masyarakat.

Di tahun 2020 ini Disparbud Sinjai kembali akan memprogramkan peningkatan sarana dan prasarana destinasi wisata hutan Mangrove Tongke-Tongke dengan alokasi anggaran dari Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp 26 juta untuk penataan jalan (tracking).

Bukan hanya itu, Taman Hutan Raya (Tahura) Sinjai Borong juga akan menjadi pengembangan obyek wisata unggulan dengan anggaran senilai Rp 3,4 milyar bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

Adapun anggaran ini diperuntukkan untuk penataan lansekap, pembangunan pusat kuliner, prmbuatan boardwalk serta pembuatan jalur sepeda.

Hal ini selaras dengan program unggulan Bupati dan Wakil Bupati Sinjai yang ingin menjadikan Tahura sebagai pusat pendidikan, penelitian dan wisata.

Tahun ini Pemkab Sinjai kembali mendapat anggaran Dana Alokasi Khusus(DAK) non fisik berupa pelatihan peningkatan Sumber Daya Manusia untuk pengelola obyek wisata.

Selain itu, tahun ini Pemerintah juga kembali akan melakukan berbagai pelatihan diantaranya pelatihan tata kelola destinasi wisata, pelatihan ekowisata, pelatihan pengebangan home stay, pelatihan pemandu wisata kuliner, pelatihan pemandu wisata tematik dan pelatihan pemandu wisata sejarah dan warisan budaya serta pelatihan pemandu wisata trekking.

Sama dengan tahun 2019, di Bidang Kebudayaan berbagai program yang akan dilaksanakan diantaranya pengembangan kesenian dan kekayaan budaya daerah, pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah, kumpul belajar seni dan pelestarian warisan budaya tak benda.

Bupati Sinjai Andi Seto Asapa (ASA) mengatakan, bahwa sektor pariwisata dan kebudayaan terbukti mempunyai dampak positif bagi pembangunan suatu daerah karena multiplier effect yang diciptakan.

Menurut dia, pengaruh yang ditimbulkan dari sektor pariwisata selain mendatangkan para wisatawan, juga memberi dampak pergerakan ekonomi masyarakat melalui munculnya berbagai jasa dan kebutuhan dari bisnis pariwisata seperti transportasi, kuliner dan sebagainya.

“Sektor pariwisata adalah sektor yang melibatkan semua stakeholder. Bagaimana sumber daya digunakan, produk diciptakan, pelanggan dipuaskan, dan investasi untuk meningkatkan kepuasan dan kebahagiaan masyarakat, sehingga akan menimbulkan multiplier effect,” ujarnya. (AaN Kominfo Sinjai)